Sunday, June 5, 2011

TINJAUAN TEORITIS TENTANG JARIMAH SYURB AL-KHAMR (MINUM-MINUMAN KERAS)



 
    Diharamkannya Syurb al-Khamr adalah sesuai dengan ajaran Islam yang menginginkan terbentuknya pribadi-pribadi yang kuat lahir dan bathin, fisik, jiwa dan akal fikirannya. Tidak diragukan lagi, khamr dapat melemahkan kepribadian dan menghilangkan potensi-potensinya terutama sekali akal.
    Apabila akal seseorang telah hilang, maka dia berubah menjadi seperti binatang yang jahat dan timbul pula darinya kejahatan serta kerusakan yang tidak diinginkan, seperti halnya timbul pembunuhan, permusuhan, berzina, membuka rahasia dan penghianatan terhadap tanah air yang termasuk dalam bentuk-bentuk pengaruh Syurb al-Khamr.
    Umat Islam dahulu masih mengkonsumsi khamr hingga Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah, umat Islam bertanya-tanya tentang minuman khamr demi melihat kejahatan-kejahatan dan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dan diakibatkan oleh perbuatan tersebut. Dalam keadaan mabuk mereka bisa melakukan perbuatan atau tindak kejahatan yang mengerikan yang tercatat dalam buku-buku sejarah. Secara bertahap, mereka bisa dipisahkan dari perbuatan-perbuatan tersebut setelah datangnya Islam. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 219 yaitu sebagai berikut:

  
yang Artinya: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir".

 
Islam menyatakan bahwa siapa yang meminum khamr (di dunia) maka ia tidak akan mengecapnya lagi di akhirat nanti. Sebab ia tidak dapat menahan dirinya dari sesuatu yang seharusnya ia hindari. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فىِ الدُّنْيَا وَلَمْ يَتُبْ لَمْ يَشْرَبْهَا فىِ اْلآخِرَةِ وَاِنْ دَخَلَ الْجَنَّةَ.


 
Artinya: "Barang siapa meminum khamr di dunia ini dan tidak dapat bertaubat, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat sekalipun ia masuk syurga."

 
Syurb al-Khamr termasuk dosa besar dan dapat menghilangkan akal, sebab meminum minuman keras dengan cara yang dilarang adalah diharamkan oleh semua agama. Tidak ada pemeluk agama satupun yang melakukannya kecuali setiap orang yang fasiq seperti orang-orang Islam yang fasiq, karena memelihara akal itu termasuk hal yang diwajibkan oleh seluruh agama di muka bumi ini.
Allah SWT memerintahkan kita untuk menjauhi minuman khamr (minuman keras), sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ
Artinya: "Setiap yang memabukan adalah khamr"
(HR. Muslim).

 
  1. Pengertian Jarimah Syurb al-Khamr (Minum-Minuman Keras)
Sebagai suatu terminology untuk memudahkan pemahaman tentang khamr tersebut terlebih dahulu akan dibahas dari kaca mata medis dan baru menurut pandangan para fuqaha. Secara medis, menurut Sayid Sabiq khamr adalah:
اَلْخَمْرُ هِيَ تِلْكَ السَّوَائِلُ الْمَعْرُوْفَةُ الْمُعَدَّةُ بِطَرِيْقِ تَخَمُّرِ بَعْضِ الْحُبُوْبِ أَوِ اْلفَوَاكِهِ وَالتَّحَوُّلِ النَّنْشَأِ اَوِ السَّكَرِ الَّذِيْ تَحْتَوِيْهِ اِلَى غَوْلٍ بِوَاسِطَةِ بَعْضِ كآءِنَاتِ حَيَّةٍ لَهَا قُدْرَةٌ عَلىَ اِقْرَازِ مَوَادِ خَاصَةٍ يُعِدُ وُجُوْدُهَا ضَرُوْرِيًّا فِى عَمَلِيَةِ التَّخَمُّرِ.


 
Artinya: "Khamr adalah cairan yang dihasilkan dari peragian biji-bijian atau buah-buahan dan mengubah sari patinya menjadi alcohol dengan menggunakan katalosator (enzim) yang mempunyai kemampuan untuk memisahkan unsure-unsur tertentu yang berubah melalui proses peragian" (Sayyid Sabiq, 1997:47).

 

 

 

 
Sedangkan dilihat dari Syariat Islam, khamr adalah:
وَكُلُّ مَا مِنْ شَأْنِهِ أَنْ يَسْكُرَ يُعْتِيْرُ خَمْرًا وَلاَ عِبْرَةَ بِالْمَادَةِ الَّتِى اَخَذَتْ مِنْهُ فَمَا كَانَ مُسْكِرًا مِنْ اَيِّ اْلاَنْوَاعِ.


 
Artinya: Setiap sesuatu yang memabukkan termasuk khamr dan tidak menjadi soal dari apa asalnya. Oleh karena itu jenis minuman apapun sejauh memabukkan adalah khamr (A. Suhartini, 2004: 202)

 
Sesuatu itu baru disebut khamr apabila melibatkan aspek-aspek:
  1. Dilihat dari bentuknya, khamr berupa cairan bukan benda padat.
  2. Dilihat dari asalnya, khamr berasal dari buah-buahan, misalnya anggur, kurma, singkong dan sebagainya.
  3. Dilihat dari prosesnya, khamr dihasilkan dari proses peragian singkong atau permentasi yang biasanya berlangsung secara alamiah.
  4. Dilihat dari esensinya, khamr berintikan etanol sehingga secara substansial khamr itu sama dengan alcohol.
  5. Dilihat dari kekuatannya, khamr memiliki kemampuan merubah atau memisahkan organ tubuh manusia yang paling sensitive sehingga memalingkan fungsi utamanya yang normal menjadi tidak stabil dan rusak. Karena kemampuannya yang luar biasa, khamr disebut juga minuman keras.
Minuman sejenis ini dinamakan dengan khamr karena mengeruhkan dan menyelubungi akal. Artinya menutupi dan merusak daya tangkapnya. Bahkan iman seseorang serentak dengan ke-Islamannya terlepas dari rongga kerohaniannya manakala ia sedang meminum minuman keras tersebut. Sebab zat iman seseorang itu sendiri tidak mau dicampur adukkan dengan zat-zat yang diharamkan.
Makna khamr dikalangan para ahli hukum Islam terdapat perbedaan pendapat yang dapat dikelompokan menjadi dua kelompok, yaitu:
  1. Kelompok Hizaz dan Jumhur Fuqaha
Mereka tidak membeda-bedakan antara minuman tersendiri dengan yang merupakan campuran, dan juga tidak membedakan antara minuman haram yang satu dengan minuman haram lainnya. Dan juga tidak membolehkan (sedikitnya) suatu minuman (haram) sementara mengharamkan (sedikitnya) suatu minuman (haram) lainnya, tetapi semuanya sama haramnya.
Apabila yang sedikit dari minuman tertentu itu haram, maka begitu pula yang sedikit dari minuman haram lainnya. Oleh karena itu hal tersebut dapat keterangan yang tegas dan pasti sehingga tidak memerlukan analisa dan tidak pula perlu diragukan lagi. Sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar yang berbunyi:
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ


 
Artinya: "Setiap yang memabukan adalah khamr dan setiap khamr adalah diharamkan". (HR.Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar)
Serta Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Hibban dari Jabir serta Hadits yang diriwayatkan oleh Nasa'i, Ahmad dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar, yang berbunyi sebagai berikut:
عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ.


 
Artinya: "Sesuatu yang memabukan banyaknya, maka sedikitnya pun haram". (HR.Ahmad, Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Hibban).
  1. Kelompok Kuffah dan Abu Hanifah
Mereka mengatakan bahwa khamr yang dibuat dari perahan anggur adalah haram hukumnya, baik sedikit maupun banyak. Adapun yang terbuat dari bahan selain anggur maka yang diharamkan adalah yang banyak saja (meminum yang banyak). Meminum sedikit dari minuman tersebut tanpa menimbulkan kemabukan menurut mereka hukumnya adalah haram.
Adalah kewajiban ilmiah untuk mengutarakan argumen-argumen para ahli fiqh diatas dengan menyimpulkan pendapatnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid yaitu sebagai berikut: "Jumhur ulama fiqh Hijaz dan jumhur ahli hadits mengatakan bahwa bir itu adalah haram, baik sedikit maupun banyak karena dapat memabukan. Jumhur ulama Irak, Ibrahim An-Nakha'I dari kalangan tabi'in, Sofyan Ats-Tsauri, Ibnu Abu Laila, Syuraik, Ibnu Syibrimah, Abu Hanifah, seluruh fuqaha Kuffah dan kebanyakan ulama Basrah berpendapat bahwa yang diharamkan dari semua minuman yang memabukan itu adalah mabuknya itu sendiri, bukan minumannya tersebut".
Sebab-sebab perbedaan pendapat diantara mereka adalah bertentangannya hadits-hadits dan analogi-analogi yang berkenaan dengan masalah ini. Ulama-ulama Hijaz mempunyai dua jalan untuk menetapkan mazhab dan pendapatnya. Pertama, melalui hadits-hadits yang berkenaan dengan masalah ini. Kedua, dengan menganggap semua jenis anggur itu sebagai khamr. Hadits yang paling masyhur sebagai pegangan ahli-ahli fiqh Hijaz ialah hadits yang diriwayatkan oleh Malik dari Ibnu Shihab, dari Abu Salmah bin Abdurrahman, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya orang tentang obat kuat dan khamr yang dibuat dari madu. Atas pertanyaan itu Nabi SAW menjawab:
كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ. (رواه مسلم)


 
Artinya: "Setiap minuman yang memabukan adalah haram". (HR.Muslim r.a)

 
Menurut kesepakatan para fuqaha dan mujtahid yang dimaksudkan dengan khamr adalah sejenis minuman yang terbuat dari perasan buah anggur, yang di didihkan sampai mengeluarkan buih-buih dan rasanya sangat menyengat (keras).
Pemahaman tentang khamr tersebut dimungkinkan diilhami oleh pemahaman-pemahaman para mujtahid sebelumnya, terutama Imam al-Syafi'I dan Abu Hanifah. Jumhur ulama Hijjaz yang terkemuka ialah Imam al-Syafi'I berpendapat bahwa sesuatu minuman yang bersifat memabukkan maka harus dikenakan hukuman Had bagi yang meminumnya meskipun orang tersebut tidak mabuk karena meminumnya, dan apa-apa yang memabukkan banyaknya maka yang sedikit pun adalah haram hukumnya. Sedangkan menurut Abu Hanifah berpendapat lain, bahwa khamr tidak mencakup kepada seluruh jenis minuman melainkan dilihat dari segi kemabukannya saja. Dan apabila minuman itu menyebabkan seseorang mabuk maka hukumnya haram (al-Syafi'i, 1993: 199-200).
Dari pemahaman-pemahaman tersebut dapatlah dipahami bahwa pemahaman terhadap khamr telah menjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat), terutama Imam al-Syafi'I dan Imam Abu Hanifah hingga kalangan masyarakat luas termasuk diantaranya masyarakat Indonesia.
.
  1. Dasar Hukum Jarimah Syurb Al-Khamr
Mula-mula ayat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW tentang khamr ialah al-Qur'an surat al-Baqarah ayat: 219, ke-dua QS. An-Nissa: 42, dank ke-tiga QS. Al-Maidah: 90-91. Dengan turunnya ayat yang terakhir itu boleh dikatakan terhapus khamr dan sejenisnya sama sekali diantara kaum Muslimin di jaman itu.
Hukuman Syurb al-Khamr itu diterangkan oleh ayat-ayat al-Qur'an, yaitu sebagai berikut:
 
Artinya: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar
dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir"
(QS. Al-Baqarah: 219)
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah
adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (90). Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (91)"
(QS. Al-Maidah: 90-91).
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun". (QS. An-Nissa: 43)

 
Adapun dari hadits-hadits Nabi SAW diantaranya adalah sebagai berikut:

 
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

Artinya: "Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram". (HR. Muslim dan Ibnu Umar)

 
مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ.

Artinya: "Sesuatu yang bila banyak memabukkan itu haram maka yang sedikitnya pun haram" (HR. Ahmad dan Arba'ah dari Ibnu Umar)

 

 

 
اِجْتَنِبُوْ الْخَمْرَ فَإِنَّهَا أُمُّ الْخَبَائِثِ.

Artinya: "Jauhilah oleh kamu khamr itu, sesungguhnya khamr itu induk dari segala kejahatan" (HR. Hakim)

 
لَعَنَ اللهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَ مُبْتَاعَهَا وَ بَائِعَهَا وَعَاصِرَهَا وَ مُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُوْلَةَ إِلَيْهَا.

Artinya: "Allah melaknat (mengutuk) khamr, peminumnya, penyajinya, pedagangnya, pembelinya, pemeras bahannya, penahan atau penyimpannya, pembawanya dan penerimanya" (HR. Abu Daud dan Ibnu Majjah dari ibnu Umar).

 
Hadits-hadits diatas dengan terang dan jelas menunjukan bahwa khamr itu adalah haram, baik dikonsumsi sedikit atau pun banyak dan khamr juga merupakan induk dari semua kejahatan. Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Setiap minuman yang memabukkan adalah haram" (HR. Bukhari). Ini berarti bahwa setiap minuman atau obat-obatan dan lain sebagainya yang dapat memabukkan adalah haram. Maka jelaslah bahwa selain minuman keras yang memabukkan, ganja, hasyisy, opium, heroin, morpin, dan obat-obat sejenis lainnya adalah hukumnya haram.

 
  1. Unsur-Unsur Jarimah Syurb Al-Khamr
Unsur yang menjadikan perbuatan Syurb al-Khamr ini sebagai Jarimah adalah minum-minuman yang memabukan (khamr) itu sendiri dan kesengajaan dalam melakukannya dengan ada i'tikad yang jahat. Syurb al-Khamr atau minum-minuman keras adalah minum-minuman yang bisa membuat mabuk dari apapun asalnya. Para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian "al-Syurbu" (meminum-minuman keras). Menurut Imam Malik, Imam Syafi'I dan Imam Ahmad seperti dikutip oleh Abdul Qadir Audah bahwa pengertian al-Syurbu adalah sebagai berikut:

 
... مَعْنىَ الشُّرْبِ فَهُوَ شَرْبُ الْمُسْكِرِ سَوَاءٌ سُمِيَ خَمْرًا أَمْ لَمْ يُسَمِّ خَمْرًا وَسَوَاءٌ كَانَ عَصِيْرًا لِلْعِنَبِ اَوْ ِلأَيِّ مَادَةٍ أُخْرَى

Artinya: "….Pengertian minuman ini adalah…minum-minuman yang memabukan, baik minuman tersebut dinamakan khamr ataupun bukan khamr, baik dari perasan anggur maupun berasal dari bahan-bahan yang lain".

 
Sedangkan pengertian al-Syurbu menurut Abu Hanifah adalah sebagai berikut:
فَالشُّرْبُ عِنْدَهُ قَاصِرٌ عَلىَ شُرْبِ الْخَمْرِ فَقَطْ سَوَاءٌ كَانَ مَا شُرِبَ كَثِيْرًا اَوْ قَلِيْلاً

Artinya: "Meminum menurut Abu Hanifah adalah meminum minuman khamr saja baik yang diminum itu banyak maupun sedikit". (Ahmad Wardi Muslich, 2004:73)

 
Sesuai dengan pengertian al-Syurbu yang dikemukakan diatas, Imam Malik, Imam Syafi'I dan Imam Ahmad berpendapat bahwa unsur ini (al-Syurbu) terpenuhi apabila pelaku meminum sesuatu yang memabukan. Dalam hal ini tidak diperhatikan nama dari minuman itu dan dari bahan apa minuman itu diproduksi. Dengan demikian, tidak ada perbedaan apakah yang diminum itu dibuat dari perasan buah anggur, gandum, kurma, tebu, maupu bahan-bahan yang lainnya. Demikian pula tidak dilihat kadar kekuatan memabukannya, baik sedikit maupun banyak, hukumnya tetap haram. Jadi dengan minum khamr itu sendiri sudah termasuk tindak pidana (al-Syafi'i, 1993: 199-200).
Disyaratkan benda yang memabukkan itu adalah berupa minuman, namun selain minuman pun tetap haram dan hukumannya adalah ta'zir. Yang dimaksud dengan minum disini adalah memasukkan minuman yang memabukkan kedalam mulut lalu ditelan masuk ke perut melalui kerongkongan meskipun bercampur dengan makanan lain yang halal. Akan tetapi, Abu Hanifah berpendapat bahwa unsur pertama ini tidak dapat terpenuhi kecuali apabila yang diminum itu khamr.
Sedangkan menurut Abu Yusuf bahwa yang dimaksud dengan mabuk yaitu seperti perkataan orang yang mengigau, tidak lagi keluar dengan kesadaran sehingga ia tidak tahu apa yang telah dikatakannya; sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 43 yang berbunyi:
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu katakan". (QS. An-Nisa: 43)
Keharaman dari Syurb al-Khamr ini dilihat dari mabuk atau tidaknya dan kemadharatan yang akan ditimbulkannya. Dalam al-Qur'an dan al-Hadits serta para fuqaha bersepakat bahwa khamr hukumnya bila dikonsumsi baik sedikit atau banyak dilihat dari bahaya yang ditimbulkannya, peminumnya menjadi fasiq dan wajib diberi Hukuman Had.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَا أَسْكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِيْلُهُ حَرَامٌ.

Artinya: "Sesuatu yang dalam ukurannya banyak bisa memabukan, maka dalam ukuran sedikitnya juga haram".

 
Juga ada riwayat lain dari an-Nasa'I:
نَهَى عَنْ قَلِيْلِ مَا اَسْكَرَ كَثِيْرُهُ.

Artinya: "Rasulullah SAW melarang sedikitnya sesuatu yang pada ukuran banyaknya bisa memabukkan".

 
Pentingnya bahwa Syurb al-Khamr itu haram hukumnya, di dalam Islam disebutkan bahwa berdosa besar barang siapa yang meminumnya. Ketetapan agama Islam melarang keras Syurb al-Khamr walaupun hanya sedikit, atau dijadikan sebagai obat, ataupun dicampurkan dengan jenis-jenis minuman lainnya. Boleh jadi khamr ada manfaatnya juga untuk kepentingan tertentu, akan tetapi jelas menurut kaidah Islam bahayanya jauh lebih besar dari pada manfaatnya, oleh karena itu wajib dijauhi.
Kalau Islam melarang Syurb al-Khamr (karena membawa mudharat memabukkan) itu tidaklah berarti larangan itu terbatas hanya kepada macam-macam khamr saja. Amatlah luas larangan itu terbentang, sebagai pedomannya ialah Hadits Nabi Muhammad SAW dari riwayat Ummi Salamah yang berbunyi:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ وَمُفْتَرٍ (رواه البخاري)

Artinya: "Telah melarang Rasulullah SAW akan segala yang memabukkan dan apa yang membawa kehinaan".

 
Sedangkan unsur "I'tikad Jahat" menurut pendapat Imam al-Syafi'I, Imam Malik dan Imam Ahmad adalah sudah tahu bahwa minuman yang memabukkan itu haram, tetapi tetap diminum juga. Oleh karena itu, tidak dikenai sanksi seseorang yang minum khamr atau minuman lain yang dapat memabukkan sedang ia tidak tahu bahwa yang diminumnya itu adalah minuman yang memabukkan atau tidak tahu bahwa minuman itu haram (al-Syafi'i, 1993: 199-200).

 
  1. Sanksi Jarimah Syurb Al-Khamr
Dalam syari'at Islam, melakukan Jarimah
Syurb al-Khamr
dilarang keras dan diancam dengan hukuman had. Namun demikian al-Qur'an sendiri tidak mengatur ketentuan sanksinya secara tegas. Adapun sanksi tersebut sepenuhnya diserahkan kepada Ulil Amri untuk memberikan sanksi had. Sanksi had bagi pelaku jarimah Syurb al-Khamr adalah delapan puluh kali jilid (cambuk atau dera) hingga peminumnya merasakan sakitnya hukuman jilid dibadannya dan hukuman tersebut menghidupkan pusat-pusat ingatannya sehingga ia kembali kepada kesadarannya, mengkaji ulang tenrhadap perbuatannya, dan berhenti dari melakukan perbuatan tersebut. Kemudian ia merasa malu akibat perbuatannya karena mendapatkan kecaman, ejekan dan pelecehan dari orang lain. (al-Ahmady Abu an-Nur, 2005: 173)
Ulama-ulama fiqh sepakat bahwa memberikan sanksi bagi pelaku jarimah Syurb al-Khamr adalah wajib dan sanksi perbuatan tersebut berupa jilid (cambuk atau dera). Akan tetapi mereka berbeda pendapat mengenai jumlah jilid tersebut (Syayid Sabiq, 1986: 77). Adapun sanksi Syurb al-Khamr menurut Imam Maliki, Hanafi dan Hambali, hukumannya adalah had sebanyak delapan puluh kali jilid. Lain halnya dengan pendapat Imam Syafi'i. Menurut Imam Syafi'I sanksi Syurb al-Khamr adalah had empat puluh kali jilid, meskipun ia kemudian membolehkan menambah sampai delapan puluh kali jilid bila Imam (ulil amri) menghendakinya, namun yang empat puluh kali jilid selebihnya bagi Imam al-Syafi'I adalah merupakan ta'zir (al-Syafi'i, 1993: 199-200).
Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa para ulama sepakat hukuman jilid yang empat puluh kali jelas merupakan hak allah, yaitu merupakan hukuman had sehingga hukuman tersebut tidak boleh dimaafkan atau digugurkan. Akan tetapi, jilid yang empat puluh kali lagi diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian menganggapnya sebagai had dan sebagian lagi menganggapnya sebagai ta'zir yang penerapannya diserahkan kepada pertimbangan Ulil Amri (imam/hakim). (Ahmad Wardi Muslich, 2005: 76).
Kebanyakan para fuqaha telah sepakat menghukum peminum apa saja yang memabukkan apapun jenisnya. Baik berupa khamr atau selain khamr, baik peminumnya mabuk ataupun tidak mabuk meskipun cuma meminum setetes, hukumnnya adalah had Sedangkan hukuman bagi pelaku jarimah Syurb al-Khamr di akhirat adalah jika mengharapkan hisaban dari allah SWT, maka penghisaban dirinya berakhir pada kemarahan serta kutukan allah kepadanya sebagai balasan yang setimpal atas perbuatannya (al-Syafi'i, 1993: 199-200).
Ibnu Umar r. a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لَعَنَ اللهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَ مُبْتَاعَهَا وَ بَائِعَهَا وَعَاصِرَهَا وَ مُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُوْلَةَ إِلَيْهَا.

"Allah SWT mengutuk khamr (minuman keras), peminumnya, penuangnya, pembelinya, penjualnya, orang yang memerasnya, orang yang meminta diperaskan, pembawanya, dan orang yang meminta dibawakan khamr". (Diriwayatkan oleh Abu Daud).

 
  1. Dampak Meminum Khamr
Seperti telah disebutkan dalam al-Qur'an dan al-Hadits bahwa Syurb al-Khamr banyak menimbulkan dampak yang mudharat dari pada maslahatnya. Juga Syurb Al-Khamr ini termasuk pada dosa besar yang berdampak buruk di dunia maupun di akhirat kelak. Meminum khamr dapat menghalangi ingatan kepada Allah SWT, menimbulkan permusuhan, dan menyebar kebencian kepada sesama. Bagi peminumnya menimbulkan efek yang sangat merugikan baik berupa materi ataupun spiritual peminum itu sendiri dan juga dapat merusak tatanan masyarakat dari akibat yang ditimbulkan peminum khamr tersebut, selain itu Syurb al-Khamr juga dapat menyebar di masyarakat luas dan dapat merusak dimensi kehidupan, diantaranya yaitu:
  1. Spiritual, mengakibatkan tercemarnya aqidah kepada Allah SWT
  2. Sosial, yaitu pangkal dari segala kejahatan (Umm al-Khabaits) yang mengakibatkan adanya tindak kriminal seperti; pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, pencurian dan lain sebagainya.
  3. Intelektual, dapat merusak sel-sel otak dan berakibat kegilaan.
  4. Individual, yaitu mengakibatkan suramnya masa depan dan rapuh mentalnya.
Meminum khamr dapat mengakibatkan mabuk. Mabuk adalah hilangnya akal pikiran sebagai akibat minum-minuman keras atau yang sejenisnya. Seseorang sudah dianggap mabuk apabila ia telah kehilangan akal pikirannya, baik hanya sedikit ataupun banyak serta tidak dapat membedakan antara langit dan bumi, tidak dapat membedakan antara laki-laki dan perempuan, ngelantur dan tidak dapat membedakan antara haq dan bathil.
Para ilmuwan dan peneliti dalam bidang ini percaya bahwa tidak ada istilah "aman" dalam mengkonsumsi racun. Sir Victor Horsely, M. D., seorang ahli bedah Inggris ternama pernah berkata "Dalam kehidupan nyata kita tidak bisa membuktikan dosis alcohol (minuman keras) yang "aman" benar-benar ada".
BATASAN, SANKSI DAN METODE IJTIHAD
IMAM AL-SYAFI'I TENTANG SYURB AL-KHAMR

 
  1. Batasan Syurb al-Khamr Sebagai Tindak Pidana Menurut al-Syafi'i
    1. Biografi Imam al-Syafi'i
      Imam al-Syafi'i (Gaza, Palestina, 150 H/767 M – 204 H/820 M) adalah seorang mujtahid besar, ahli hadits, ahli bahasa Arab, ahli tafsir dan ahli fiqh. Dalam bidang hadits ia terkenal dengan gelar Nasir as-Sunnah (pembela sunnah Rasulullah SAW), dan didalam bidang fiqh dan ushul fiqh ia terkenal sebagai penyusun pertama kitab ushul fiqh dan sekaligus sebagai pendiri mazhab Syafi'i (Van Hoeven, 1997:1679).
      Akan tetapi terdapat riwayat lain yang mengatakan bahwa tempat lahirnya Imam al-Syafi'i adalah di Asqalan kurang lebih 15 km dari Ghazzah dan ada pula yang mengatakan di Yaman.
      Tampaknya para ahli sejarah sepakat mengenai tahun kelahirannya, yaitu 150 H, bersamaan dengan meninggalnya Abu Hanifah. Mayoritas ahli berpendapat bahwa Imam al-Syafi'I adalah turunan dari ayah suku Quraisy Muttalibi, yang silsilahnya adalah: Muhammad ibn Idris al-Abbas ibn Usman ibn Syafi'i ibn al-Sa'ib ibn Ubai ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn Muttalibi ibn Abd Manaf yang juga adalah merupakan kakek dari Nabi SAW. Abd Manaf mempunyai 4 orang anak, masing-masing: al-Muttalib, Abd Syams (kakek dari Bani Umayyah), Hasyim dan Naufal (kakek dari Jubair ibn Mut'im). Al-Muttalib ini memelihara Abd Muttalib ibn Hisyam (kakek Nabi SAW). Di masa Jahiliyah, turunan al-Muttalib dan Hasyim merupakan satu kelompok yang bertentangan dengan turunan Abd Syams (Sulaiman Abdullah, 1996:32). Pengaruh dari pertentangan kedua kelompok ini akan terlihat dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya.
      Sedangkan ibunya bukan keturunan bangsa Quraisy, melainkan dari suku Azd. Runtutan keturunan dari ibunya adalah Fatimah binti Abdillah ibn al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Sebagian pengikut Imam asy-Syafi'i menduga bahwa ibunya adalah bangsa Quraisy yang tinggi.
      Imam al-Syafi'i hidup sebagai seorang yatim yang fakir, karena itu ia hidup dalam keadaan yang sangat sederhana dan merasakan penderitaan orang banyak. Namun karena kedudukannya sebagai seorang keluarga terhormat maka ia bersikap berjiwa besar dan tidak canggung dalam pergaulan tapi mempunyai akhlak yang baik. Kemiskinan tidak membuatnya merasa hina dan keturunannya yang mulia tidak membuatnya sombong. Meskipun miskin tetapi ibunya dengan gigih mengusahakan pendidikan Imam al-Syafi'i, sehingga dalam usia yang sangat muda telah dapat menghafal al-Qur'an. Setelah hafal al-Qur'an dalam usia kurang lebih 10 tahun, ia pun mengarahkan perhatiannya untuk menghafal al-Hadits. Ia sangat serius dalam mempelajari al-Hadits dengan jalan mendengar dari guru, kemudian mencatatnya diatas tembikar kadang-kadang di kulit binatang. Sering juga ia pergi ke tempat pembuangan sampah untuk mencari kertas yang masih dapat digunakan untuk menulis catatannya.
      Sementara itu, ia pun mendalami bahasa Arab untuk menjaga dirinya dari pengaruh bangsa asing yang tengah melanda bangsa Arab. Ia pergi ke Kabilah Huzaili di pedusunan untuk mempelajari bahasa Arab yang pasih, dan indah susunan bahasanya. Ia bermukim di Kabilah Huzaimah seraya mempelajari adab syair, sejarah dan tidak lupa pula untuk belajar menunggang kuda dan memanah serta mempelajari kehidupan orang desa dan orang kota.
      Imam al-Syafi'i belajar dari ulama-ulama Makkah baik dari kalangan ulama fiqh maupun ulama al-Hadits, sehingga memperoleh kedudukan tinggi dalam bidang ilmu fiqh. Gurunya adalah Muslim ibn Khalid al-Zanji dan menganjurkannya agar menjadi mufti, tetapi hasratnya untuk mengejar ilmu baginya tak terbatas dan nasihat gurunya itu pun ditolak.
      Mendengar berita bahwa di Madinah ada seorang ulama besar (Imam Malik) yang terkenal namanya kemana-mana dan mempunyai kedudukan tinggi dalam bidang ilmu al-Hadits, ia pun tertarik untuk belajar pada Imam Malik. Tetapi sebelum ia pergi ke Madinah ia telah meminjam kitab al-Muwatta' karya Imam Malik itu dari seorang lelaki Makkah. Ia berangkat ke Madinah dengan membawa surat pengantar dari Gubernur Makkah. Di Madinah ia mulai mengarahkan perhatiannya untuk mendalami fiqh di samping mempelajari kitab al-Muwatta'. Ia melakukan mudarasah dengan Imam Malik dalam masalah-masalah yang difatwakan Imam Malik. Ia telah mencapai tingkat dewasa ketika Imam Malik meninggal dunia pada tahun 179 H. Selama ia belajar di Madinah sering melakukan perjalanan ke kota-kota Islam untuk mempelajari kondisi masyarakat dalam segala kehidupannya dan sering kembali ke Mekkah mengunjungi ibunya untuk minta nasihatnya.
      Setelah menginjak dewasa, ia merasa perlu untuk memperoleh penghidupan yang layak. Kebetulan pada masa itu Gubernur Yamman berkunjung ke Mekkah dan dengan melalui perantaraan beberapa orang Quraisy, Gubernur Yamman tersebut dapat menerimanya menjadi Pegawai Negeri di Yamman. Dalam melakukan tugas sebagai pejabat Negara, terbukti kecerdasan dan ketinggian budinya sebagai layaknya keturunan bangsawan Quraisy sehingga ia terkenal di kalangan masyarakat luas.
      Ketika Yaman dikuasai oleh seorang Gubernur yang zalim, Imam al-Syafi'i sebagai pegawai yang jujur menentang kezaliman itu. Melihat sikap Imam al-Syafi'i yang demikian, maka Gubernur membuat fitnah terhadapnya dan melaporkannya kepada Khalifah sebagai pendukung Ali (Syi'ah). Khalifah Abbasiyah sangat waspada terhadap kelompok Syi'ah sehingga Khalifah Harun al-Rasyid yang berkuasa pada waktu itu memerintahkan supaya Imam al-Syafi'i didatangkan ke Bagdhad bersama 9 orang lainnya. Tuduhan yang ditujukan kepada Imam al-Syafi'i dapat di hindarkannya berkat inayah Allah SWT dan bantuan dari Muhammad ibn Hasan yang menjadi hakim besar di Bagdhad karena tertarik dengan kepribadian Imam al-Syafi'i. Kejadian ini pada tahun 184 H, dan kedatangannya ke Bagdhad kali ini merupakan kedatangannya yang kedua dan ia pun meninggalkan pekerjaannya di pemerintahan Abbasiyah untuk berkonsentrasi mendalami ilmu pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
      Ia pelajari fiqh Irak dan membaca buku Muhammad ibn Hasan. Dengan demikian, ia dapat mengumpulkan pembendaharaan fiqh Hijaz dan fiqh Irak. Ia pun belajar kepada guru-guru yang terkenal tinggi ilmunya pada saat itu, seperti Muhammad ibn Hasan sendiri. Walau demikian, ia masih merasakan dirinya sebagai pengikut Imam Malik serta penghafal al-Muwatta'. Karena itu, ia sering terlibat dalam perdebatan dengan murid-murid Muhammad ibn Hasan dan membela fiqh Hijaz. Ia tidak langsung mendebat gurunya karena menghormati martabatnya, tetapi pada suatu ketika Imam al-Syafi'i berdebat juga dengan gurunya itu.
      Akhirnya, pada tahun 186 ia kembali lagi ke Mekkah dengan membawa fiqh Irak, lalu mengadakan majlis ilmu di mesjid al-Haram, ia mulai mengajar untuk mengembangkan ilmunya dan mulai berijtihad secara mandiri dalam membentuk fatwa-fatwa fiqhnya. Tugas mengajar dalam rangka menyampaikan hasil ijtihadnya ia tekuni dengan berpindah-pindah tempat. Selain di Mekkah, ia juga pernah mengajar di Baghdad (195-197 H), dan akhirnya di Mesir (198-204 H). Dengan demikian ia sempat membentuk kader-kader yang akan menyebarluaskan hasil ijtihadnya dan bergerak dalm bidang hukum Islam. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah Imam Ahmad ibn Hambal (pendiri mazhab Hambali), Yusuf ibn Yahya al-Buwaiti (w. 231 H), Abi Ibrahim Ismail ibn Yahya al-Muzani (w. 264 H), dan Imam al-Rabi ibn Sulaiman al-Marawi (174-270 H). Tiga muridnya yang disebut terakhir ini mempunyai peranan penting dalam menghimpun dan menyebarluaskan faham-faham fiqh Imam al-Syafi'i (Van Hoeven, 1997:1680).
      Diantara hal-hal yang secara serius mendapat perhatian Imam al-Syafi'i adalah tentang metode pemahaman al-Qur'an dan as-Sunnah atau metode Istinbath (ushul fiqh). Meskipun para Imam Mujtahid sebelumnya dalam berijtihad terikat dengan kaidah-kaidahnya yang tersusun dalam sebuah buku sebagai satu disiplin ilmu yang dapat dijadikan pedoman oleh para peminat hukum Islam.
      Dalam kondisi demikian Imam al-Syafi'i tampil berperan menyusun sebuah buku (kitab) ushul fiqh. Idenya ini didukung pula dengan adanya permintaan oleh seorang ahli hadits yang bernama Abdurrahman ibn Mahdi (w. 198 H) di Baghdad agar Imam al-Syafi'i menyusun metodologi Istinbath. Imam Muhammad Abu Zahrah (w. 1394 H/1974 M; seorang ahli hukum Islam berkebangsaan Mesir) menyatakan buku itu disususn ketika Imam al-Syafi'i berada di Baghdad, sedangkan Abdurrahman ibn Mahdi ketika itu berada di Mekkah. Imam al-Syafi'i memberi judul bukunya dengan "al-kitab" (kitab atau buku) atau "kitabi" (kitabku), kemudian lebih dikenal dengan "al-Risalah" yang berarti sepucuk surat. Dinamakan demikian, karena buku itu merupakan surat Imam al-Syafi'i kepada Abdurrahman ibn Mahdi. Kitab al-Risalah yang pertama ia susun, dikenal dengan nama al-Risalah al-Qadim (risalah lama). Dinamakan demikian karena didalamnya termuat pikiran-pikiran Imam al-Syafi'i sebelum pindah ke Mesir. Setelah pindah ke Mesir isinya disusun kembali dalam rangka penyempurnaan bahkan ada pula yang diubahnya, sehingga kemudian dikenal dengan sebutan al-Risalah al-Jadid (risalah baru).
      Jumhur ulama ushul fiqh sepakat menyatakan bahwa kitab al-Risalah karya Imam al-Syafi'i ini merupakan kitab pertama yang memuat masalah-masalah ushul fiqh secara sempurna dan lebih sistematis. Oleh sebab itu, ia dikenal sebagai penyusun pertama ushul fiqh sebagai suatu disiplin ilmu. Selain dalam kitab al-Risalah, landasan pembentukan hukum yang dipegangnya juga dijelaskan dalam kitab fiqhnya "al-Umm" (ibu/induk). Dalam dua buku tersebut tertuang pokok-pokok pikiran Imam al-Syafi'i dalam membentuk mazhab fiqhnya. Lima landasan dasar fiqhnya dikemukakan secara jelas dan sistematis, yaitu al-Qur'an, sunnah Rasulullah SAW, ijma', fatwa sahabat dan qiyas. Diantara hal-hal yang lebih ditekankan dalam kitab al-Risalah yang menjadi landasan bagi semua ushul fiqh mazhab Syafi'i adalah sebagai berikut:
      Pertama, setelah ia mengemukakan berbagai argumentasi untuk meyakinkan para pembaca al-Qur'an yang diturunkan seluruhnya dalam bahasa Arab, ia menegaskan bahwa wajib atas setiap muslim mempelajari bahasa Arab minimal mampu membaca al-Qur'an, bertasbih, takbir, tahmid dan lainnya yang merupakan amalan sehari-hari. Disamping itu, harus ada diantara anggota masyarakat yang mempelajari bahasa Arab secara lebih mendalam, karena dengan itu kandungan al-Qur'an dapat dipahami.
      Kedua, pembahasan mengenai validitas Sunnah Rasulullah SAW sebagai sumber hukum Islam. Diantara hal-hal yang prinsifal yang harus dibenahi pada waktu itu ialah tentang kelemahan umat Islam dalam mempertahankan Sunnah Rasulullah SAW, terutama Hadits Ahad yang menurut Imam al-Syafi'i telah terancam eksistensinya sebagai sumber ajaran Islam dengan adanya aliran yang mengatakan bahwa yang pantas menjadi sumber ajaran hanyalah Hadits Mutawatir di samping al-Qur'an. Bahkan seperti yang dikatakan oleh Abu Halim al-Jundi (seorang ilmuwan Islam berkebangsaan Mesir) ada yang menolak sunnah sama sekali.
      Dalam kondisi demikian, Imam al-Syafi'i tampil melakukan pembelaan secara gigih sambil meluruskan kekeliruan persefsi tersebut dengan mengajukan berbagai argument otentik tentang kedudukan sunnah Rasulullah SAW sebagai sumber hukum Islam. Ia juga merumuskan secara ilmiah kriteria-kriteria yang menunjukan mana hadits yang harus ditolak dan mana hadits yang harus diterima sebagai sumber hukum.
      Diantara persyaratan-persyaratan Hadits yang dapat diterima sebagai sumber Hukum seperti yang ditegaskan dalam al-Risalah ialah; disamping perawinya bersifat adil, juga bila mana hadits itu diriwayatkan dengan maknanya (bukan dengan lafalnya), dan perawi harus paham betul dengan maksud hadits yang diriwayatkannya. Selain itu perawi hadits juga harus dhabit (kuat hafalannya), mendengar langsung dari ahli hadits tempat ia meriwayatkan, dan tidak bertentangan isinya dengan hadits yang diriwayatkan oleh ahli hadits yang lebih dikenal dan dipercaya. Persyaratan-persyaratan itu harus berada pada setiap generasi secara berkesinambungan dan bersambung sampai kepada generasi sahabat yang menerima langsung dari Rasulullah SAW. Atau minimal sampai pada generasi tabi'in dalam bentuk hadits mursal. Meskipun hadits Mursal tidak bersambung perawinya karena tidak menyebutkan sahabat yang menerima langsung dari Rasulullah SAW, oleh Imam al-Syafi'i diterima sebagai sumber hukum dengan beberapa persyaratan yang ekstra ketat, seperti kandungan hadits itu disepakati oleh seluruh ulama fiqh dan diriwayatkan oleh para tokoh tabi'in yang popular seperti Sa'id ibn Musayyab (w. 94 H).
      Melihat muatannya seperti tersebut diatas, kitab al-Risalah disamping sebagai kitab pertama ushul fiqh, juga dikenal sebagai kitab ilmu hadits. Pembelaan Imam al-Syafi'i terhadap sunnah sebagai sumber hukum ajaran, merupakan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan hukum Islam.
      Ketiga, masalah lain yang menjadi perhatian Imam al-Syafi'i ialah masalah Ijtihad. Menurut beliau, melakukan ijtihad hukumnya wajib bagi yang memenuhi persyaratan untuk melakukan ijtihad, karena dengan itulah kandungan al-Qur'an dapat dipahami dan diamalkan. Allah SWT menguji ketaatan seseorang untuk melakukan ijtihad, demikian ditegaskan Imam al-Syafi'i, seperti halnya Allah SWT menguji ketaatan hambanya dalam hal-hal lain yang diwajibkan. Sampai masa Imam al-Syafi'i, metode ijtihad hanya ada dalam praktek, belum tersusun dalam bentk buku, sehingga memungkinkan adanya praktek-praktek ijtihad yang bergeser dari yang seharusnya dilakukan. Sambil mengkritik praktek-praktek ijtihad yang dinilainya telah menyimpang, ia merumuskan metode ijtihad secara tertulis dan sistematis.
      Menurut Imam al-Syafi'i, satu-satunya metode ijtihad yang diakui adalah qiyas (analogi), karena dengan metode itulah hubungan hasil ijtihad dengan wahyu dapat dibuktikan. Imam al-Syafi'i sendiri tidak menyebutkan secara tegas definisi qiyas seperti yang disebutkan oleh ulama berikutnya. Namun dari ulama pengikutnya dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan qiyas adalah menyamakan hukum sesuatu kasus yang tidak tertera hukumnya dalam al-Qur'an dan al-Hadits dengan hukum masalah yang tertera dalam kedua atau salah satu dari kasus sumber hukum tersebut dengan melihat kesamaan 'illat (alasan logisnya). Oleh karena ada kesamaan logisnya itu, qiyas dianggap sebagai metode istinbath yang beresensikan al-Qur'an dan al-Hadits. Setiap penyimpangan dari metode qiyas berarti menyimpang dari referensi wahyu, oleh karena itu Imam al-Syafi'i menolaknya.
      Karya-karya Imam al-Syafi'i selain al-Risalah juga kitab al-Qiyas, Ibtal al-Istihsan, Ikhtilaf al-Hadits dan yang sangat terkenal adalah kitab al-Umm. Tetapi oleh para ahli sejarah kitab-kitab karya Imam al-Syafi'i dibagi dua bagian, yaitu:
      1. Ditulis oleh Imam al-Syafi'i sendiri, seperti al-Umm dan al-Risalah
      2. Ditulis oleh murid-murid Imam al-Syafi'i, seperti Mukhtasar al-Muzani dan Mukhtasar al-Buwaiti, yang keduanya merupakan ikhtisar dari kitab Imam al-Syafi'i yaitu al-Imla dan al-Amali.
    2. Pendapat Imam al-Syafi'i Terhadap Sumber Hukum
      Istilah sumber Hukum biasa dipergunakan oleh hukum umum dengan pengertian "segala yang menimbulkan aturan-aturan yang apabila dilanggar mengakibatkan sanksi", yang kalau dalam bahasa Arab istilah sumber sama dengan Masdar (Mufrad) atau Musaadir (jamak).
      Moenawar Chalil (1990 : 244) mengemukakan tentang dasar-dasar hukum yang digunakan oleh Imam al-Syafi'i dalam menetapkan suatu hukum, sebagaimana yang ia kutif dari karya utama Imam al-Syafi'i yaitu "al-Risalah". Dasar Hukum yang biasa digunakan oleh Imam al-Syafi'i tersebut adalah sebagai berikut:
      1. al-Qur'an
      Menurut Imam al-Syafi'i posisi al-Qur'an dalam hukum Islam adalah sebagai landasan dari semua pengetahuan hukum. Imam al-Syafi'i memandang bahwa al-Qur'an atau al-Kitab merupakan sumber dari segala sumber syari'at, tempat memancarnya sumber-sumber lain, merupakan tuntunan dari masalah apapun yang mungkin timbul dikalangan kaum muslimin sebagai akibat dari tuntutan sosial budaya (sosio of cultur) (al-Syafi'i, t.t.).
      Dari sudut pandang demikian, maka al-Qur'an merupakan prinsif dasar dari seluruh ajaran syari'at Islam (kulli al-Syari'ah). Keseluruhan ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur'an dapat dipahami dari yang tersurat melalui pengamatan dan penalaran ataupun dijelaskan oleh sunnah-sunnah Rasulullah SAW.
      Dari penjelasan Imam al-Syafi'i dalam kitab al-Risalah-nya mengenai al-Qur'an, maka akan terasa sekali bahwa al-Qur'an merupakan titik sentral atau sumber tempat berputarnya pengetahuan tentang syari'at agama itu. Oleh karena itu, al-Qur'an merupakan kulli al-Syari'ah (sumber hukum Islam), tidak menjelaskan segala kasus secara rinci melainkan secara global yang universal sehingga memerlukan penjelasan. Sementara itu, terdapat juga petunjuk al-Qur'an itu yang tidak memerlukan penjelasan lain, karena kejelasannya ditunjukan oleh al-Qur'an itu sendiri.
      Imam al-Syafi'i memandang bahwa perintah-perintah al-Qur'an sebagaimana pernyataan-pernyataan yang eksplisit mengenai segala persoalan. Dalam bab yang khusus Imam al-Syafi'i menjelaskan tentang al-Bayan dan membaginya dalam beberapa kategori, untuk memperlihatkan bahwa perintah-perintah al-Qur'an mempunyai makna yang jelas. Kategori Pertama, terdiri dari ketentuan-ketentuan hukum yang khusus seperti shalat, zakat, puasa dan haji, serta larangan-larangan atas perbuatan buruk tertentu seperti zina, minum-minuman keras serta perbuatan riba dan yang lainnya. Kategori kedua, meliputi kewajiban-kewajiban tertentu yang perinciannya dijelaskan oleh Sunnah Rasulullah SAW seperti banyaknya shalat, nisabnya zakat serta batasan waktunya. Kategori ketiga, terdiri dari ketentuan-ketentuan hukum yang ditetapkan Rasulullah SAW dan tidak dijelaskan oleh nash-nash (teks-teks) al-Qur'an. Ini didasarkan pada bahwa prinsif al-Qur'an menjadikan kepatuhan terhadap Rasulullah SAW sebagai suatu hal yang wajib bagi kaum yang bersaksi bahwa "tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah sebagai utusan Allah". Kategori keempat, terdiri dari aturan-aturan yang diturunkan melalui ijtihad (al-Syafi'i, t.t : 48).
      Selanjutnya Imam al-Syafi'i mengemukakan bahwa memahami ayat-ayat dari al-Qur'an perlu diketahui beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
      1. Bahwa semua ayat yang terdapat dalam al-Qur'an diturunkan dalm bahasa Arab.
      2. Permasalahannya yang menyangkut nasikh dan mansukh, tentang hal-hal yang secara eksplisit (nash) diwajibkan, tentang ayat-ayat etika, nasihat-nasihat dan ayat-ayat lain yang membuka keleluasaan untuk memilih (ibahah).
      3. Tentang posisi dimana Allah telah menempatkan Muhammad SAW sebagai pemberi penjelas dan detail terhadap perintah-perintah yang terdapat dalam al-Qur'an, sejauh mana perintah-perintah itu punya daya cakup, siapa-siapa yang harus melaksanakannya, kapan dan bagaimana.
      4. Pentingnya suatu pengertian bahwa di dalam al-Qur'an Allah telah menempatkan suatu keharusan kepada umat manusia untuk mengambil segala perintah rasul dan menjauhi segala larangan-larangannya.
      5. Tentang perumpamaan-perumpamaan yang mendorong sikap patuh pada perintah dan patuh meninggalkan larangan-larangan, mendorong semangat untuk mengejar pahala dan antusiasme dalam memburu karunia (Hasbi ash-Shiddieqy, 1975: 17-18).
      Imam al-Syafi'i mengkaji al-Qur'an secara mendalam dan mengklasifikasi persyaratan-persyaratan al-Qur'an menjadi yang bersipat umum ('amm) dan yang bersifat khusus (khash). Ia menyatakan ada pernyataan-pernyataan tertentu yang mutlak bersifat umum, dan dimaksudkan untuk bersifat umum juga ada pernyataan-pernyataan yang juga bersifat umum dan dimaksudkan demikian, tetapi merujuk pada situasi atau kejadian khusus, juga ada pernyataan-pernyataan yang tampaknya bersifat umum, tetapi yang maknanya tidak dapat dipastikan kecuali bila diterapkan pada keadaan-keadaan khusus. Imam al-Syafi'i menulis tiga bab mengenai ketiga kategori ini dan membahasnya dengan memberikan contoh-contoh (al-Syafi'i, t.t : 53-61).
      Kemudian Imam al-Syafi'i membagi pernyataan-pernyataan al-Qur'an menurut klasifikasi lain. Ada ayat-ayat tertentu yang maknanya ditentukan oleh konteksnya, sementara ayat-ayat lain yang redaksinya menunjukan makna dalamnya (bathin) dan bukan pengertian literal atau luarnya (zhahir). Lebih jauh Imam al-Syafi'i menyatakan bahwa al-Qur'an mengandung sekumpulan ayat-ayat yang tampaknya bersifat umum, tetapi sunnah menunjukan bahwa ayat-ayat tersebut dimaksudkan khusus. Ia menjelaskan semua kategori tersebut dengan contoh-contoh dari al-Qur'an (al-Syafi'i, t. t: 52). Klasifikasi Imam al-Syafi'i terhadap ayat-ayat al-Qur'an merupakan sumbangan yang besar terhadap pemahaman yang memadai terhadap kitab Allah SWT yaitu al-Qur'an. Tidak diragukan lagi bahwa al-Qur'an menyuguhkan ekspresi yang berbeda-beda.
      1. al-Hadits
      Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang Mutawatir saja, tetapi yang ahad' pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi dalil, asalkan telah mencukupi syarat-syaratnya, yakni selama perawi hadits tersebut orang terpercaya, tajam ingatannya dan bersambung langsung kepada Nabi SAW.
      Sementara itu, para pendahulu Imam al-Syafi'i memandang perilaku kaum muslimin yang sudah mapan dan tradisi yang telah dipraktekan sebagai sunnah. Melihat kenyataan tersebut, Imam al-Syafi'i memulai suatu gerakan untuk mengikis "praktek" seperti itu. Ia mengemukakan bahwa hadits merupakan satu-satunya jalan untuk mengetahui sunnah Rasul. Ia menegaskan bahwa Hadits adalah sui generis (termasuk jenis sendiri, aslun fii nafsihi) dan tidak dapat dianggap analogi dengan disiplin ilmu lainnya yang manapun juga.
      Lebih lanjut, Imam al-Syafi'i mengatakan bahwa walaupun terdapat perbedaan antara hadits dan sunnah, namun perbedaan yang sangat penting tersebut segera lenyap dibawah tekanan kebutuhan juristic oleh karenanya setiap hadits yang dapat diperas kegunaannya bagi hukum menjadi sebuah sunnah.
      Jika ada tradisi-tradisi yang berbeda mengenai satu masalah yang sama, Imam al-Syafi'i meletakan suatu aturan tertentu yang pasti untuk menseleksi satu dari antaranya. Dari aneka persi tradisi yang bersangkutan ia menganjurkan untuk memilih satu diantaranya yang lebih sesuai dengan al-Qur'an, karena konsistensi dengan al-Qur'an merupakan satu petunjuk akan keotentikan suatu hadits.
      Imam al-Syafi'i mempercayai bahwa tidak ada hadits otentik yang bertentangan dengan al-Qur'an sekalipun menurut fuqaha lain ada, Imam al-Syafi'i berusaha mendamaikan pertentangan tersebut dan menerangkan bahwa hal itu merupakan pelengkap bagi al-Qur'an sekaligus memperjelas arti al-Qur'an.
      1. Ijma
      Ijma merupakan salah satu hujjah syar'iyyah. Begitu pula prendapat Imam al-Syafi'i. Posisi Ijma' menurut Imam al-Syafi'i berada dibawah al-Qur'an dan as-Sunnah baik yang Mutawatir maupun yang Ahad. Ijma menurut al-Syafi'i merupakan salah satu argumentasi yang didapati dari hasil kesepakatn pendapat seluruh lapisan komunitas muslim. Maka merupakan sebuah konsekuensi yang dianggap oleh Imam al-Syafi'i jika kriteria ini terpenuhi, maka ijma' tersebut sah menjadi salah satu Hujjah
      Syar'iyyah (menjadi sumber hukum ketiga setelah al-Qur'an dan as-Sunnah), sebagaimana yang dikutip oleh Muhyiddin Abdus Salam yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Manrus Muslim dalam bukunya yang berjudul "Pola Pikir Imam al-Syafi'i".
      Mengenai definisinya (Ijma' menurut al-Syafi'i) yang disebutkan diatas ini bisa dilihat dalam kitab al-Risalah yang dikemukakan oleh Imam al-Syafi'i yaitu sebagai berikut:

       
      Artinya: "Saya dan tak seorang pun dari kalangan ulama pernah mengatakan: "ini adalah persoalan yang telah disepakati", kecuali menyangkut persoalan yang tidak seorang ahli pun pernah mempersoalkannya lagi kepada anda dan meriwayatkannya dari orang-orang yang mendahuluinya, seperti shalat zuhur empat rakaat, bahwa khamr itu diharamkan dan sebagainya" (al-Syafi'i, t.t : 232)

       
      Statement-nya tersebut mengandung pengertian bahwa mereka yang berijma' itu adalah para ulama, karena mereka lah yang bisa menemukan apa yang halal dan apa yang haram atas sesuatu yang tidak disebutkan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah. Mereka terdiri dari ulama semasa dari seluruh Negara Islam (Sulaiman Abdullah, 1996: 86).
      Namun demikian kesepakatan pendapat semacam ini (ijma') tidaklah dianggap oleh Imam al-Syafi'i sebagai salah satu sumber hukum Islam yang perlu diprioritaskan, karena kegunaan dan peranan ijma' biasanya hanya terbatas untuk menyelesaikan masalah perorangan saja. Oleh karena itu, Imam al-Syafi'i menolak semua bentuk kesepakatan (konsensus) dari kalangan ulama disuatu tempat tertentu, Madinah saja misalnya. Lantaran ia berteori bahwa tidaklah mungkin segenap masyarakat mampu menggalang kesepakatan tentang sesuatu hal yang tidak disetujui oleh masyarakat muslim secara keseluruhan. Barangkali mereka hanya mufakat, setuju atas hasil kesepakatan masyarakat Muslim secara kolektif (Muhyiddin Abdus Salam, 1995: 53).
      Bila hal ini terjadi, maka kesepakatan konsensus (ijma') yang ada, hanya diambil oleh kaum Muslimin secara umum, tidak terbatas pada masyarakat Madinah semata. Oleh sebab itu Imam al-Syafi'i juga menolak keabsahan ijma' sukuty (suara abstain dan dianggap masuk kelompok suara yang pro).
      Hal ini juga bisa dilihat dalam buku Dinamika Qiyas dalam Pembaharuan hukum Islam (kajian konsep qiyas Imam al-Syafi'i) yang ditulis oleh Sulaiman Abdullah hal 86-87 yang mengemukakan bahwa Imam al-Syafi'i menolak ijma' ulama Madinah yang diakui oleh gurunya yaitu Imam Malik. Walau demikian tidaklah berarti bahwa Imam al-Syafi'i mengabaikan sama sekali ijma' ulama Madinah. Imam al-Syafi'i memperhatikan dan menghargai serta menganjurkannya supaya dipegang, karena ijma' mereka merupakan pendapat terbanyak. Oleh karena itu, ia hanya mengaku Ijma' Syar'iyyah dan menolak Ijma' Tsukuty. Ia tidak gampang menerima pendapat yang mengatakan terjadinya ijma' atasnya, karena sulit dibuktikan kebenarannya bahkan tidak mungkin dapat dibuktikan.
      Imam al-Syafi'i hanya mengakui ijma' sahabat, karena ijma mereka menunjukan bahwa masalah yang diijma'kan itu didengarnya dari Rasulullah SAW. Jadi sebenarnya merupakan sunnah, tetapi mereka tidak memandangnya sebagai sunnah melainkan sebagai ijtihad mereka. Apabila terhadap masalah yang mereka ijma'kan itu diiringinya dengan as-Sunnah maka yang menjadi Hujjah adalah as-Sunnah bukan ijma' mereka (al-Syafi'i, t.t : 204 yang dikutip oleh Sulaiman Abdullah).Tampaknya Imam al-Syafi'i tidak mensyaratkan harus disebutnya denga sharih oleh peserta ijma' landasan (sanad) tertentu dari ijma' mereka. Karena dalam pandangan Imam al-Syafi'i bahwa setiap sunnah Nabi SAW pasti mereka ketahui meskipun ada kemungkinan tidak diketahui oleh sebagian mereka. Imam al-Syafi'i yakin bahwa umat tidak akan sepakat atas suatu kesalahan.
      Pada pembahasan tentang Ijma' ini, Imam al-Syafi'i mengakhirinya dengan satu penegasan bahwa yang dimaksud dengan ijma' yang sah adalah ijma' seputar persoalan fara'id (pembagian harta peninggalan), dan atau tentang hukum pokok (ushul), yang diketahui secara aksiomatis. Dalam syari'at sebagaimana dikutip oleh Muhyiddin Abdus Salam dari Sulaiman Abdullah.
      1. Qiyas
      Bagi Imam al-Syafi'i, Qiyas merupakan sumber hukum yang keempat, qiyas dalam arti yang luas adalah penggunaan nalar (ratio) hasil dari suatu berpikir analogi dalam rangka pengembangan hukum. Perbuatan tersebut disebut Ijtihad. Oleh karena itu, dalam konsep Imam al-Syafi'i, qiyas tak lebih hanya merupakan padanan kata dari ijtihad. Seperti diungkapkan dalam kitab al-Risalah yaitu sebagai berikut:

       
      Artinya: "Apakah qiyas itu juga adalah ijtihad? Atau ada bedanya? ... Keduanya punya arti yang sama …Apakah dasar umum dari keduanya? … Semua persoalan yang terjadi dalam kehidupan kaum muslimin tentu ada hokum yang jelas dan mengikat atau sekurang-kurangnya ada ketentuan umum yang menunjuk kepadanya, jika tidak maka ketentuan hokum itu harus dicari dengan ijtihad, dan ijtihad tak lain adalah qiyas (analogi") (al-Syafi'i, t.t : 205-206).
         
          Qiyas tersebut diyakini oleh Imam al-Syafi'i harus selalu bermuara kepada Ilmu Pengetahuan yang dibaginya menjadi empat bagian, yaitu:
      1. Ilmu Dogmatis Teoritis
        Adalah ilmu pengetahuan mengenai berbagai ketentuan yang diberikan Allah dan Rasul-Nya, yang diturunkan dengan jalan berantai dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Sehingga melalui ilmu ini manusia bisa mengetahui dan mengerti yang haq dan yang bathil, yang baik dan yang buruk, dan atau yang halal dan yang haram
      2. Ilmu Teknis Dogmatis
        Adalah satu disiplin ilmu yang ditularkan dari orang-orang tertentu, yang lebih merupakan rumusan ilmu praktis. Seperti pengetahuan tentang eksekusi hokum qishash, dengan syarat ada dua orang saksi mata dari peristiwa pembunuhan tersebut, sekalipun tidak menutup kemungkinan bahwa kedua orang saksi itu berlaku keliru.
      3. Ilmu Ijma'
        Adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari sipat, sikap, bentuk dan jenis kesepakatan pendapat atau consensus para ulama.
      4. Ilmu Ijtihad
        Adalah ilmu pengetahuan penggunaan daya nalar guna memastikan aturan hukum syari'ah, dengan jalan qiyas (analogi) (Muhyiddin Abdus Salam, ab Mohammad Mahrus Muslim, 1995: 249-250)
          Qiyas adalah suatu metode pengembangan dan penerapan prinsif-prinsif yang terdapat dalam al-Qur'an, as-Sunnah atau ijma', dalam hal-hal yang tidak diatur secara terang oleh salah satu dari ketiga sumber hukum Islam tersebut. Jadi, dalam sekema Imam al-Syafi'i, fungsi nalar manusia berada pada tingkat subordinatif (yang paling rendah) dibandingkan dengan fungsi ajaran yang diwahyukan Allah SWT. Deduksi analogi (qiyas) harus bertitik tolak pada prinsif-prinsif yang dibangun oleh al-Qur'an, as-Sunnah dan ijma', sedang hasilnya tidak boleh bertentangan dengan aturan atau kaidah yang dibangun oleh salah satu dari ketiga sumber pokok tersebut.
          Mengenai hal ini, sebagaimana ditegaskan oleh M. Abu Zahrah bahwa dengan cara qiyas itu berarti para mujtahid telah mengembalikan ketentuan hukum sesuatu kepada sumbernya yaitu al-Qur'an dan al-Hadits. Sebab hukum Islam kadang tersurat jelas dalam nash al-Qur'an dan al-Hadits, kadang juga bersifat implisit-analogik terkandung dalam nash tersebut. Pada tulisan selanjutnya Abu Zahrah mengutip mengungkapkan pandangan Imam al-Syafi'i, seperti ungkapan diatas (tentang adanya ketentuan hukum bagi setiap peristiwa dan persamaan qiyas dengan ijtihad) (Muhammad Abu Zahrah, 1958: 218).
          Jadi hukum Islam itu ada kalanya dapat diketahui melalui bunyi nash, yakni hukum-hukum yang secara tegas tersurat dalam al-Qur'an dan al-Hadits, adakalanya harus digali melalui kejelian memahami makna dan kandungan nash. Yang demikian itu dapat diperoleh melalui pendekatan qiyas (Muhammad Abu Zahrah, 1958: 218).
          Pernyataan Imam al-Syafi'i tersebut diatas menegaskan bahwa fungsi qiyas itu sangat penting dalam mengungkapkan hukum dari dalilnya (al-Qur'an dan as-Sunnah) guna menjawab tantangan peristiwa yang dihadapi kaum Muslimin yang tidak secara tegas disebutkan dalam al-Qur'an atau as-Sunnah. Hal ini akan lebih jelas apabila kita lihat kembali tulisan Imam al-Syafi'i tentang fungsi qiyas, yaitu sebagai berikut:

       
      Artinya: "Semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan orang Islam, pasti terdapat ketentuan hukumnya atau indikasi yang mengacu pada adanya ketentuan hukumnya. Jika ketentuan itu disebutkan, maka haruslah diikuti; jika tidak, maka haruslah dicari indikasi yang mengacu kepada ketentuan hokum tersebut dengan berijtihad, dan ijtihad itu ialah qiyas " (al-Syafi'i, t.t : 206).
         
          Dari sini terlihat pula wawasan pemikiran Imam al-Syafi'i yang berjangkauan jauh ke depan, bahwa kaum muslimin didalam hidupnya senantiasa akan menghadapi berbagai peristiwa baru yang secara tegas (tekstual) tidak disebutkan hukumnya didalam al-Qur'an atau as-Sunnah. Oleh karena itu, setiap peristiwa tersebut tidak terlepas dari adanya ketentuan hukum tetapi tidak dijelaskan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah, maka harus dicari dalam al-Qur'an atau as-Sunnah dengan menggunakan qiyas. Jadi qiyas dalam pandangan Imam al-Syafi'i berperan besar dalam menggali hukum bagi setiap peristiwa baru yang dihadapi kaum muslimin.
          Baik dari pernyataan tentang adanya ketentuan hukum bagi setiap peristiwa maupun pernyataannya tentang fungsi qiyas, terungkap ketegasan Imam al-Syafi'i bahwa:
      1. Al-Qur'an berisi petunjuk yang lengkap tentang hokum segala peristiwa yang dihadapi kaum muslimin, baik peristiwa tersebut sudah terjadi, sedang terjadi maupun yang belum ada dan akan terjadi.
      2. Petunjuk al-Qur'an tentang hukum itu ada yang tersurat (literal, eksplisit, lafziyyah, syarih) tetapi ada pula yang tersirat (implicit, ma'nawiyyah dengan ' illat) yang dapat digali (istinbath) dengan memperhatikan indikasi atau isyarat (tentang adanya hukum) yang menjadi landasan hukum qiyas. Oleh karena itu, hukum Allah itu dapat diketahui melalui dua jalur, jalur lafdziyah yaitu nash yang sharih dan jalur ma'nawiyyah yaitu qiyas.
                Kemungkinan qiyas sebagai pengembangan hukum ialah karena kenyataan objektif dari nash-nash al-Qur'an dan as-Sunnah ada yang menegaskan 'illat hukumnya atau sekurangnya dapat dilacak motivasi hukumnya. Ayat-ayat yang seperti ini bisa disebut sebagai ayat-ayat yang ma'qul al-ma'na. Hal itu sesuai dengan kenyataan bahwa setiap ketetapan hukum itu mengandung tujuan yang kembali kepada kemaslahatan umat manusia.
      3. Qiyas merupakan metode ijtihad dan sarana penggali (istinbath) hukum bagi peristiwa yang tidak disebut secara tegas (sharih) dalam nash. Qiyas berfungsi dan berperan sangat penting dalam mengungkap hukum peristiwa yang tidak disebutkan dalam nash (Sulaiman Abdullah, 1996: 99-100).
          Selain pernyataan tersebut diatas, Imam al-Syafi'i juga menjelaskan penolakannya terhadap penggunaan ra'y, ia membagi pengetahuan hukum pada dua jenis, yaitu Ittiba' (ketaatan) dan Istinbath (pengambilan kesimpulan). Dalam ittiba', menurutnya orang harus pertama-tama mengikuti al-Qur'an, kemudian as-Sunnah, dan akhirnya pendapat yang disepakati secara bulat oleh para generasi-generasi awal. Imam al-Syafi'i menganggap qiyas sebagai landasan hukum terakhir dan membedakannya dengan ra'y lain dan istilah-istilah yang berkaitan dengannya (al-Syafi'i, t. t: 148).
          Dengan membatasi ruang lingkup qiyas, Imam al-Syafi'i ingin membawakan penalaran yang sistematis dalam hukum dan menghilangkan kekacauan yang merupakan akibat dari penggunaan ra'y secara bebas. Itulah sebabnya kenapa Imam al-Syafi'i menjustifikasi keabsahan qiyas atas dasar al-Qur'an dan menganggap penggunaannya sebagai suatu kewajiban bagi kaum muslimin. Kita temui justifikasi qiyas atas dasar al-Qur'an untuk pertama kalinya pada Imam al-Syafi'i (Ahmad Hasan, 1984: 185).
          Sikap Imam al-Syafi'i Dalam pandangannya atas qiyas lebih merupakan reaksi terhadap penafsiran hukum secara bebas. Ia berusaha mereda aliran yang bebas itu dengan dua cara, yaitu: pertama, Imam
      al-Syafi'i meletakan tekanan pada nash dan kepatuhan terhadap tradisi Rasulullah SAW. Kedua, Imam al-Syafi'i menolak ra'y dan membatasi ruang lingkup qiyas.
          Dalam penerimaannya terhadap qiyas, pemahaman Imam al-Syafi'i mengharuskan qiyas itu merupakan sebagai kasus perkasus yang identik atau semi identik, dan ia tidak menyetujui prosedur yang ditempuh oleh para ahli hukum awal. Juga menurutnya qiyas harus bertitik tolak dari suatu landasan yang orisinil dan indefenden, bukan pada suatu kesimpulan yang diturunkan dan suatu kesimpulan analogis. Lebih jauh Imam al-Syafi'i tidak membolehkan perbandingan analogi antara satu tradisi Rasulullah SAW dengan tradisi sahabat. Hal ini merupakan gagasan baru Imam al-Syafi'i dalam hal qiyas (Fazlur Rahman, 1984: 21).
          Konsep qiyas yang ditawarkan Imam al-Syafi'i memiliki kekhasan yang tidak pernah ada pada madzhab-madzhab awal, bahkan dalam teori qiyas klasik sekalipun. Menurutnya, jika sebagian kecil sesuatu dinyatakan haram oleh Allah SWT atau oleh Rasulullah SAW, maka bagian yang lebih besar harus dianggap haram. Begitu pula jika suatu tindakan kepatuhan yang kecil dipuji, maka tindakan kepatuhan yang lebih besar juga selayaknya harus dianggap terpuji. Hal ini dikarenakan keunggulan yang besar atas yang kecil. Sama halnya ia berpandangan bahwa jika sejumlah kecilnya pun harus dianggap sama. Ia menganggap qiyas seperti ini sebagai qiyas yang paling kuat. Imam al-Syafi'i memperincinya dengan memberikan sejumlah ilustrasi. Ia berkata bahwa, menurut sebuah tradisi dilarang menumpahkan darah seorang yang beriman, menumpahkan darah dan merampas hak miliknya. Hadits tersebut menyuruh agar berperasangka baik terhadap orang yang beriman. Segala yang bertentangan dengan kebaikan terhadapnya, misalnya membicarakan kejelekan yang dimilikinya, mesti lebih lagi haramnya. Tingkat larangan akan semakin kuat sejalan dengan meningkatnya keburukan yang dilakukan terhadapnya. Mengenai hal ini, Imam al-Syafi'i menyatakan bahwa sejumlah ulama tidak menganggap hal itu sebagai qiyas', karena sedikit dan banyakdalam hal pengharaman atau pengumpatan adalah sesuatu yang sama serta bukannya dua hal yang memungkinkannya digunakan qiyas. Meraka membolehkan bentuk qiyas yang biasa, yakni qiyas sebagai qiyas (al-Syafi'i, t. t: 476).
          Terdapat bermacam amar tertentu dimana Imam al-Syafi'i tidak membolehkan digunakannya penalaran. Karena itu, perintah-perintah tersebut tidak dapat diperluas secara analogi. Dikatakannya bahwa jika terdapat sejumlah aturan didalam al-Qur'an atau as-Sunnah tentang sesuatu hal, tetapi Rasulullah SAW membuat pengecualian dalam aturan tersebut, maka pengecualian tersebut tidak boleh di generalisir. Imam al-Syafi'i memberikan ilustrasi dengan pelaksanaan mash (mengusap) pada sepatu, yang ia pandang sebagai pengecualian dari aturan umum membasuh kaki ketika berwudlu. Tetapi menurutnya, tidak boleh melakukan mash (mengusap) pada tutup kepala dengan dasar mash (mengusap) pada sepatu. Ia memberikan contoh lain yang serupa dari hadits, dimana Rasulullah SAW membuat pengecualian dari aturan-aturan umum. Imam al-Syafi'i menyebutnya pengecualian ini sebagai ta'abudi (al-Syafi'i, t. t: 486).
          Sekalipun qiyas berfungsi dan sangat berperan dalam mengungkapkan hukum peristiwa yang tidak disebutkan dalam nash, namun dalam pandangan Imam al-Syafi'i hasil pengetahuan hukum yang digali dengan jalan qiyas tidak sama peringkatnya dengan pengetahuan hukum yang diperoleh secara sarih dari al-Qur'an atau as-Sunnah dan Ijma'.
          Alasan menempatkan kedudukan hasil qiyas lebih rendah dari hasil pengetahuan hukum secara sarih dari al-Qur'an atau as-Sunnah dan Ijma' ialah karena pengetahuan hukum yang diperoleh dengan qiyas hanya benar secara lahir (menurut apa yang dicapai oleh kemampuan nalar para mujtahid saja) yang tidak aman dari pengaruh subjektivitas. Untuk hal ini bisa kita lihat dalam tulisan Imam al-Syafi'i yang dalam arti bebasnya sebagai berikut:
      "Pengetahuan hokum itu diperoleh dari beberapa segi, pertama pengetahuan yang benar lahir bathin, kedua pengetahuan yang benar lahirnya saja. Pengetahuan Hukum yang benar lahir bathin ialah apa yang ditegaskan hukumnya oleh Allah SWT atau Rasulullah SAW yang dikutip oleh para ulama dari orang banyak (mutawatir). Kedua sumber ini menyatakan tentang halal sesuatu yang dihalalkan-Nya dan tentang keharaman sesuatu yang diharamkan-Nya. Pengetahuan dalam bentuk ini menurut pendapat kami tidak memberi peluang kepada seseorang untuk tidak mengetahuinya atau meragukan kebenarannya. Ketiga, pengetahuan yang bersumber dari ijma'. Keempat, pengetahuan hokum yang bersumber dari ijtihad dengan qiyas dalam mencari kebenaran. Pengetahuan ini dinilai benar bagi pelaku qiyas bersangkutan dan tidak mesti dipandang benar oleh mujtahid lain. Sebab hanya Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi" (Sulaiman Abdullah, 1996: 100).
         
          Pernyataan Imam al-Syafi'i tersebut diatas menegaskan beberapa pokok pikiran mengenai qiyas. Pokok-pokok pikiran Imam al-Syafi'i tersebut adalah sebagai berikut:
      1. Praktek qiyas diletakkan oleh Imam al-Syafi'i dalam kategori pengetahuan hukum secara lahir, artinya hanya hakikatnya yang diketahui Allah SWT. Oleh karena itu, memberi peluang yang besar untuk berbeda pandapat.
      2. Mengingat kedudukan pengetahuan hukum yang dihasilkan oleh qiyas berkekuatan zanni (diduga kuat kebenarannya), maka tidak harus menghasilkan kesepakatan pendapat.
      3. Karena qiyas bersifat zanni, maka dapat:
        1. Dibanding oleh pelaku qiyas lain sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan hasil. Dari sinilah pokok/sumber terjadinya perbedaan pendapat ulama yang cukup luas.
        2. Dikaji ulang oleh pelaku qiyas bersangkutan sehingga memungkinkan terjadinya perubahan pendapat (salah satu aspek pembaharuan hukum). Pada kenyataannya, Imam al-Syafi'i pernah mengubah pendapatnya ketika berada di Baghdad (qaul qadim) dengan pendapatnya setelah berada di Mesir (qaul jadid). Dengan demikian, qiyas berperan juga dalam pembaharuan hukum dalam arti perubahan (Sulaiman Abdullah, 1996: 102-103).

         
          Imam al-Syafi'i memakai jalan istidlal apabila beliau dalam suatu urusan yang bertalian dengan hokum sudah tidak mendapati dalil dari ijma' dan tidak ada jalan dari qiyas, yaitu dengan mencari alasan yang bersandarkan atas kaidah-kaidah (undang-undang) agama meskipun dari agama ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang terang-terangan tidak dihapus oleh al-Qur'an. Beliau tidak pernah mempergunakan pendapat atau buah pikiran manusia., juga tidak mau mengambil hukum dengan cara istihsan, seperti yang biasa dilakukan oleh para fuqaha dari pengikut Imam Hanafi di Baghdad (Moenawir Chalil, 1990: 244).
    c. Batasan Syurb al-Khamr Sebagai Sebuah Tindak Pidana Menurut al-Syafi'i
    Secara leksikal, menurut Lois Ma'luf (1973: 195) kata khamr merupakan bentuk masdar dari kata yang searti dengan kata yang berarti menutupi. Orientasi penutupannya lebih bersipat abstrak, tetapi apabila sesudah huruf
    Dari dua sudut pandang yang talah dijelaskan diatas, ada dua hal yang dapat diturunkan dalam upaya memahami tentang batasan syurb al-khamr sebagai sebuah tindak pidana. Pertama, konotasi "setiap sesuatu yang memabukkan….". Dalam batasan secara fuqhiyah telah dipertegas oleh batasan secara media yang menyatakan bahwa inti kandungan khamr adalah alkohol. Artinya; yang menyebabkan mabuknya seseorang itu adalah unsur alkoholnya, sebab alkohol lah yang memiliki kemampuan merubah dan memisahkan organ-organ tubuh manusia tertentu, khususnya sarap otak. Kalau orang membawa sebatas alkohol murni lalu ia meminumnya, maka karena kekerasan alkohol yang merasuk ke dalam darah itu pada saatnya akan merusak susunan saraf orang. Dari situlah orang akan mabuk, bahkan kalau terlalu banyak kadar alkohol dalam darah tidak menutup kemungkinan orang itu akan mati. Itulah yang dimaksud " " yakni apa-apa yang memabukkan karena banyaknya, maka walaupun sedikit pasti haram hukumnya. Kedua, kekaburan makna maksud dari untaian statement " " yakni, maka apa yang memabukkan dari apapun asalnya, ternyata dalam hadits Bukhari Muslim ditegaskan yaitu sebagai berikut:
    Jadi ada lima sumber yang dapat diperas menjadi khamr, yaitu anggur, kurma, madu, gandum, dan biji-bijian. Dalam bahasa yang lebih umum menurut batasan secara medis, asal sesuatu yang dapat menjadi sumber permentasi sehingga menghasilkan khamr adalah biji-bijian atau buah-buahan. Tegasnya sumber permentasi itu lebih banyak berasal dari nabati. Sebagai sumber untuk keperluan pembuatan yang memabukkan, nabati itu dapat berupa akarnya, barangnya, daunnya,bunganya atau buahnya. Demikian juga karena teknologi sesuatu cairan termasuk alkohol dapat diproses kedalam benda padat. Nah, kalau begitu ganja, narkotika, ekstasi, dan semisalnya baik dilihat dari asal-usulnya maupun dari kandungan memabukannya jelas termasuk kepada khamr.
    Mengingat kerasnya alkohol apabila ditargetkan untuk konsumsi masyarakat jarang disajikan dalam bentuk alkohol murni, melainkan sudah larut dalam bentuk minuman tertentu. Di negara kita misalnya, banyak sekali minuman-minuman permentasi yang sudah mengandung kadar akohol, misalnya wiski, genever dan lain sebagainya. Disamping itu ada juga yang kadar alkoholnya rendah seperti dalam sprite, greensport dan sebagainya. Bahkan ada pula yang alkoholnya difungsikan sebagai bahan pengawet. Dari jenis-jenis minuman seperti itu, timbullah masalah yang paling mendasar; berapakah persentase kadar alkohol yang dapat memabukkan peminumnya? Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis akan menurunkan dua hasil penelitian kimiawi yang dikutip oleh Panji Masyarakat terbitan 11 Januari 1982. Pertama, Biro Penelitian Kimia UNDIP Semarang dengan mendasarkan kepada alkohol 10% dalam minuman keras ternyata kadar alkohol dalam darah mencapai 0,05%, maka orang akan mengalami halusinasi dan ilusinasi. Pada saat alkoholnya mencapai 0,15% maka peminumnya akan kehilangan kesadaran diri. Apabila konsentrasi alkohol itu naik terus sehingga mencapai 0,29% barulah orang itu akan keracunan dan mabuk. Peresapan kadar alkohol dalam darah sudah mencapai antara 0,30%-0,40% akan mengakibatkan kehilangan keseimbangan. Dan akhirnya apabila kadar alkohol dalam darah sudah mencapai 0,50% si peminum akan mati.
    Kedua, Susanto dari PPR Ujung Pandang menunjukkan hasil penelitiannya berdasarkan jenis minuman keras dan volume yang diminumnya. Menurutnya, bila tingkat konsentrasi alkohol dalam darah mencapai 0,05% akibat minum wiski 60-90 ml, maka kerja saraf otak peminumnya akan berkurang. Jika wiski yang diminumnya mencapai 102-175 ml dan menghasilkan konsentrasi alkohol dalam darah mencapai 0,10%, maka kerja saraf otak terutama kecepatan, keseimbangan dan ketangkasannya akan menurun. Pada saat kadar alkohol dalam darah mencapai 0,20% karena minum wiski sebanyak 135-355 ml maka semua saraf otak akan mengecil dan menimbulkan mudah emosi. Bila konsentrasi alkohol dalam darah itu mencapai 0,45% karena minum wiski sebanyak 430-770 ml, maka si peminum akan tidak sadarkan diri. Dan kalu kadar alkohol dalam darah mencapai 0,70% karena minum wiski sebanyak 800-1240 ml maka jantung tidak akan bekerja lagi yang berarti si peminum akan mati.
    Dari penelitian media diatas penulis berkesimpulan bahwa kunci utama terjadinya kemabukkan adalah terjadinya rembesan alkohol ke dalam darah. Proses terjadinya rembesan sehingga terkonsentrasi alkohol dalam darah, karena orang meminum-minuman yang berkadar alkohol tertentu. Karena itu, kalau orang menggunakan alkohol tidak dengan jalan diminum sehingga tidak memungkinkan terjadinya konsentrasi alkohol dalam darah, misalnya digunakan sebagai campuran minyak wangi, maka tidaklah diharamkan. Sebab tidak akan terjadi penutupan fungsi organ-organ tubuh manusia secara wajar. Tetapi sebaliknya, kalau orang meminum-minuman yang berkadar alkohol sampai batas yang diharamkan, sedikit ataupun banyak, mabuk atau tidak mabuk, tetap haram hukumnya. Masalahnya, mabuknya seseorang karena meminum-minuman keras sangat relatif, yakni tidak semata-mata tergantung pada kadar alkohol yang terkandung dalam minuman, tetapi berat badan peminum, kadar air si peminum, metabolisme tubuh peminum, kondisi fisik peminum sangat mempengaruhi tingkat kemabukan tersebut.
    Secara media seperti diutarakan diatas, batas minimal kandungan alkohol dalam suatu minuman yang memungkinkan terjadinya rembesan kedalam darah adalah 10%. Artinya, jika seseorang meminum satu gelas minuman berbobot 35 ml yang mengandung kadar alkohol 10%, maka orang itu akan mulai mabuk, kerja sarafnya sudah berkurang sehingga sangat membahayakan si peminumnya. Pandangan fuqaha lebih berhati-hati sehingga kandungan alkohol dalam minuman itu mencapai 3% pun sudah diharamkan. Maka dapatlah kita simpulkan dari penjelasan-penjelasan diatas, maka suatu minuman di hukumi haram apabila minuman tersebut mengandung kadar alkohol sekurang-kurangnya antara 6-7%.
        
  1. Sanksi Jarimah Syurb al-Khamr Menurut Imam al-Syafi'i
    Dalam Hukum Pidana Islam, Syurb al-Khamr (minum-minuman keras dan beralkohol) meskipun tidak sampai mabuk tetapi dapat memabukkan adalah salah satu Jarimah Hudud. Jarimah hudud lebih lanjut meliputi; perzinahan, qadzaf (menuduh zina), minum-minuman keras (Syurb al-Khamr), pencurian, perampokan, pemberontakan dan murtad. Namun tidak ada ayat al-Qur'an yang menerangkan secara rinci akan sanksi Syurb al-Khamr (minum-minuman keras dan beralkohol), melainkan terdapat dalam beberapa hadits yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW menjatuhkan hukuman berupa sanksi cambuk sebanyak empat puluh kali jilid, nampaknya hukuman itu terlalu ringan (A. Djazuli, 1997: 13).
    Berdasarkan Hadits Nabi SAW:

     
    Artinya:
    "Jika ia minum khamr maka jilidlah ia, kemudian jika ia minum maka jilidlah ia, kemudian jika ia minum maka jilidlah ia, kemudian jika ia minum maka bunuhlah ia". Lalu didatangkan seorang laki-laki yang telah minum maka beliau menjilidnya, kemudian ia didatangkan yang kedua kalinya maka beliau menjilidnya, kemudian ia didatangkan yang ketiga kalinya maka beliau menjilidnya, kemudian ia didatangkan yang keempat kalinya maka beliau menjilidnya dan beliau meninggalkan pembunuhan, dan itu sebagai rukhshak" (al-Syafi'I, 1993: 199-200).

     
    Dengan tidak adanya ayat al-Qur'an yang menerangkan secara khusus dan menentukan secara tegas akan sanksi Syurb al-Khamr, maka timbullah perbedaan pendapat diantara para fuqaha akan jumlah jilid sebagai hukuman bagi peminum khamr. Demikian pula Rasulullah SAW, kadang-kadang beliau menjilidnya sedikit dan kadang-kadang menjilidnya banyak tetapi tidak pernah melebihi empat puluh kali jilid. Disepakati para ulama bahwa sanksi itu tidak diberikan ketika peminum itu mabuk, karena sanksi itu merupakan pelajaran, sedangkan orang yang sedang mabuk tidak dapat diberi pelajaran.
    Menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, hukuman untuk peminum khamr (minuman keras) adalah delapan puluh kali jilid atau dera. Sedangkan menurut Imam al-Syafi'I dan satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad, hukuman untuk peminum khamr tersebut adalah empat puluh kali jilid atau dera, akan tetapi mereka ini membolehkan hukuman dera/jilid delapan puluh kali apabila hakim (imam) memandang perlu. Dengan demikian menurut Imam al-Syafi'I hukuman bagi peminum khamr adalah had_nya empat puluh kali dera sedangkan selebihnya yaitu empat puluh kali dera lagi adalah merupakan hukuman ta'zir.
    Adapun sebab terjadinya perbedaan dalam penentuan hukuman ini adalah karena nash yang qath'i yang mengatur tentang hukuman had bagi jarimah Syurb al-Khamr ini tidak ada. Di samping itu tidak ada riwayat yang memastikan adanya ijma' sahabat dalam penetapan hukuman had bagi jarimah syurb al-khamr. Walaupun al-Qur'an mengharamkan khamr yang kemudian diperkuat oleh hadits Nabi, namun untuk hukumannya sama sekali tidak ditetapkan secara pasti. Rasulullah menghukum orang yang meminum khamr dengan pukulan yang sedikit atau banyak, tetapi tidak lebih dari empat puluh kali jilid atau dera. Abu Bakar juga demikian, pada masa pemerintahan khalifah Umar beliau bingung memikirkan orang-orang yang meminum khamr bertambah semakin banyak. Beliau mengadakan musyawarah dengan para sahabat untuk menetapkan hukumannya. Diantara para sahabat yang berbicara adalah Abdurrahman bin Auf. Beliau mengatakan bahwa hukuman had yang paling ringan (rendah) adalah delapan puluh kali dera/jilid. Sayyidina Umar akhirnya menyetujui pendapat tersebut dan ditetapkan sebagai keputusan bersama yang kemudian dikirimkan ke daerah-daerah antara lain Syam yang pada waktu itu penguasanya adalah Khalid dan Abu Ubaidah.
    Fuqaha yang menganggap bahwa hukuman had bagi jarimah syurb al-khamr itu delapan puluh kali jilid/dera berpendapat bahwa para sahabat telah sepakat (ijma'), sedangkan ijma' juga merupakan salah satu sumber hukum (dalil) syara'. Akan tetapi mereka mereka yang berpendapat bahwa hukuman had bagi jarimah syurb al-khamr itu empat puluh kali jilid/dera beralasan dengan sunnah rasulullah yang menjilid peminum khamr dengan empat puluh kali jilid/dera yang kemudian diikuti juga oleh Khalifah Abu Bakar. Mereka berpendapat bahwa tindakan Nabi SAW itu merupakan hujjah yang tidak boleh ditinggalkan karena adanya perbuatan orang lain. Dan ijma' tidak boleh terjadi atas keputusan yang menyalahi perbuatan Nabi dan para sahabatnya. Dengan demikian, mereka menafsirkan kelebihan yang empat puluh kali dera/jilid dari Sayyidina Umar itu adalah merupakan hukuman ta'zir yang boleh diterapkan apabila hakim/imam memandang perlu.
    Dalam kasus ini diceritakan kata-kata Ali r.a, sebagai berikut:

     
    Artinya: "Rasulullah SAW telah menghukum dengan empat puluh kali pukulan, Abu Bakar juga empat puluh kali pukulan dan Umar ra menghukum dengan delapan puluh kali pukulan. Hukuman ini (empat puluh kali pukulan) adalah hukuman yang lebih saya sukai.
    Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa para ulama sepakat, hukuman dera yang empat puluh kali jelas merupakan hak allah yaitu merupakan hukuman had sehingga hukuman tersebut tidak boleh dimaafkan atau digugurkan. Akan tetapi, hukuman dera yang empat puluh kali lagi diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian menganggapnya sebagai hukuman had yang wajib dilaksanakan bersama-sama dengan dera yang empat puluh kali tadi, dan sebagian menganggapnya sebagai ta'zir yang pelaksanaannya diserahkan kepada pertimbangan ulil amri (imam/hakim).
    Apabila terjadi beberapa kali perbuatan syurb al-khamr sebelum dihukum salah satunya, maka hukuman tersebut saling memasuki (tadakhul), artinya pelaku hanya dikenai satu jenis hukuman saja. Apabila hukuman had bagi pelaku jarimah syurb al-khamr ini bergabung dengan hukuman mati, seperti ia minum khamr dan berzina sedangkan ia muhshan maka hukuman yang dilaksanakan cukup hukuman yang paling berat saja yaitu hukuman mati. Dalam hal ini hukuman mati menyerap hukuman lain yang lebih ringan. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad. Akan tetapi menurut Imam al-Syafi'I hukuman mati tidak menyerap hukuman lain yang lebih ringan, sehingga dengan demikian semua hukuman harus dilaksanakan.
    Apabila hukuman had bagi pelaku jarimah syurb al-khamr bergabung dengan hukuman lain selain hukuman mati maka hukuman-hukuman tersebut tidak saling memasuki, kecuali menurut Imam Malik dalam hukuman had syurb al-khamr (minum-minuman keras) dan hukuman had qadzaf (menuduh zina) yang jenis hukumannya sama. Dengan demikian, hukuman bagi orang yang minum khamr adalah had, yakni didera/jilid dan dianggap sebagai orang fasiq, kecuali jika ia bertobat.
  2. Metode Istinbath al-Hukmi al-Syafi'I Dalam Menentukan Sanksi Jarimah Syurb al-Khamr.

 


 

 

No comments:

Post a Comment